Hari lahir Pancasila menjadi magnet tersendiri bagi Megawati untuk datang dan bersalaman dengan Presiden SBY. Bagi Megawati, Pancasila bukan hanya sekadar ideologi negara, tapi telah menjadi bagian dari sejarah hidup ayahnya, Bung Karno. Peristiwa bersalamannya mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara peringatan hari lahir Pancasila 1 juni 2010 lalu menjadi pembicaraan tersendiri di kancah politik, menurut pengamatan Tomo. Maklum, hubungan kedua tokoh nasional ini sejak 2004 diketahui kurang harmonis.
Karena itu,panggung peringatan hari lahir Pancasila yang digelar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pimpinan Taufik Kiemas yang notabene suami Megawati ini dinilai menjadi milik SBY dan Megawati. Hadirnya kedua tokoh nasional yang selama ini berseteru itu tak lepas dari kiprah Taufik. Hal inilah yang diapresiasi Presiden SBY. Ketua MPR memprakrarsai untuk bersama-sama memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni, ujar SBY dalam sambutannya di Gedung MPR/DPR Jakarta,Selasa (1/6). Lebih menarik lagi, saat mengawali pidatonya Presiden SBY langsung menyapa Megawati. Sontak saja, hal itu mendapat respons hangat dari para hadirin yang hadir.
Yang saya hormati Ibu Megawati Soekarnoputri, ujar SBY disambut tepuk tangan yang riuh rendah dari para hadirin. Karena itu, sejumlah kalangan menilai peringatan acara hari lahir Pancasila yang digagas MPR awal Juni lalu memiliki nilai tersendiri. Bisa menyatukan dua tokoh nasional yang selama ini berseberangan. Taufik pun gembira atas pertemuan Megawati dengan SBY.
Taufik menilai pertemuan ini menjadi awal positif untuk hubungan baik Megawati dengan SBY ke depan. Yang senang kita semua. Sudah bagus keduanya datang. Emang kalau orang berdamai enggak boleh? kata Taufik sambil tersenyum seusai acara. Paling tidak, dalam acara itu itikad baik kedua tokoh nasional yang berseberangan sudah terlihat. Keduanya mulai bisa menerima satu sama lain.
Hal ini dibuktikan dengan jabat tangan yang mereka lakukan. Wajar jika banyak kalangan berharap kemesraan ini menjadi awal perdamaian di antara keduanya. Sebagaimana diketahui, sejak Pemilu 2004, hubungan kedua tokoh mulai renggang. Perseteruan keduanya berlanjut hingga Pemilu 2009. Saat ditanya wartawan seusai acara mengenai mencairnya hubungan dirinya dengan Presiden SBY, Megawati menjawab diplomatis.
Kehadirannya dalam acara itu karena undangan Ketua MPR. Kedatangan saya ke sini karena diundang Ketua MPR dan dalam status dua, yaitu sebagai mantan presiden dan Ketua Umum PDIP, ujar Megawati. Mantan Ketua DPR yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menilai, sebetulnya selama ini tidak ada masalah di antara keduanya.
Kalaupun ada perbedaan pendapat, mungkin hanya adanya kesalahpahaman. Namun, secara kelembagaan tidak ada masalah sama sekali. Dijelaskan Akbar, pertemuan keduanya dalam satu acara membuktikan bahwa hubungan pribadi keduanya sudah mencair dan iklim politik semakin kondusif dengan adanya komunikasi politik keduanya. Setidaknya,pertemuan itu juga bisa memberikan contoh kepada generasi muda dan elit politik lainnya.
Pertemuan itu penting bagi pembelajaran politik bagi masyarakat, calon pemimpin,tokoh-tokoh muda. Mereka ternyata melihat pemimpin kita walaupun ada perbedaan pandangan, pendapat, tapi silaturahmi dan hubungan kemanusiaan tetap berjalan, ujar Akbar. Sementara itu, Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari menganggap pertemuan kedua tokoh nasional itu merupakan kesuksesan acara peringatan hari lahir Pancasila itu sendiri.
Taufik bisa menjadi jembatan kebangsaan di antara kedua tokoh sehingga berhasil membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Taufik Kiemas berhasil menciptakan suasana peringatan hari lahirnya Pancasila menjadi acara yang sarat dengan pesan rekonsiliasi, persatuan, kebersamaan, dan persaudaraan. Taufik telah menunjukkan kelasnya sebagai jembatan kebangsaan yang mencairkan persepsi minor tentang para elite negeri ini, ujar Qodari.
Taufik juga dinilai cerdas dalam memilih isu besar yang dapat menggugah para tokoh untuk datang, termasuk Megawati dan SBY. Kehadiran Megawati sangat mungkin disebabkan faktor isu besar tersebut.Hari lahir Pancasila menjadi magnet tersendiri bagi Megawati untuk datang. Apalagi, bagi Megawati, Pancasila bukan sekadar ideologi negara yang sudah final sebagaimana kerap dikampanyekannya, tapi juga telah menjadi bagian dari sejarah hidup ayahnya, Bung Karno, sebagai penggali Pancasila.
Namun, Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo berharap tidak ada spekulasi atau kompromi politik terkait kedatangan Megawati dalam acara yang juga dihadiri Presiden SBY. Menurut Tjahjo, kedatangan Megawati dalam acara itu merupakan hal yang formal saja mengingat Megawati sebagai mantan presiden diundang pimpinan MPR untuk memperingati 1 Juni.
Tentunya kehadiran beliau karena menganggapperingatanitusebagai hal penting, apalagi PDIP dalam Kongres III di Bali April lalu secara tegas telah menetapkan Pancasila 1 Juni sebagai ideologinya. Bahkan,Tjahjo mengingatkan agar pertemuan itu juga tidak perlu dibesar-besarkan karena tidak ada masalah personal antara Megawati dan Presiden SBY.
Karena memang sejak dulu tidak ada masalah. Soal beda pendapat atau sikap sah-sah saja. Namun, dalam kerangka Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa, UUD 1945 sebagai konstitusi kita, serta NKRI, dan masalah kebhinekaan semua harus satu.
Senin, 07 Juni 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar