Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin memiliki kans kuat untuk kembali memimpin ormas keagamaan ini untuk periode 2010-2015. Menurut informasi yang diterima Tomo bahwa sebelumnya dalam pemilihan 13 PP Muhammadiyah, Din menempati posisi tertinggi perolehan suara. Dalam tradisi Muhammadiyah, peraih suara terbanyak adalah yang menjadi ketua umum. Namun Din enggan berbicara lebih banyak terkait peluangnya ini.Soal posisi ketua umum,menurutnya, dia menyerahkan sepenuhnya pada hasil musyawarah 13 PP hari ini. “Saya tidak mau menanggapi soal itu (peluang ketua),besok kan baru diplenokan,” ujar Din usai bermain kethoprak bersama sejumlah pengurus Muhammadiyah dan seniman di Taman Budaya Yogyakarta, tadi malam. Din menilai 13 orang yang terpilih dalam PP Muhammadiyah adalah kader terbaik.
Dengan demikian, dirinya enggan menanggapi lebih jauh masuknya beberapa kader muda. Di sisi lain, menurutnya, meski beberapa pengurus adalah wajah lama bukan jaminan tidak ada perubahan. Pengurus Pusat Muhammadiyah terpilih Muhammad Muqoddas menyatakan, dalam tradisi umum Muhammadiyah, peraih suara terbanyak adalah yang menjadi ketua umum.Menurut dia,ada sema-cam larangan tidak tertulis yang menyatakan jika calon bukan peraih suara tertinggi, maka tidak akan menjadi ketua umum.“Insya Allah, Pak Din bersedia,” tegas Muqoddas di Yogyakarta kemarin. Meski demikian, dia mengingatkan kepada Ketua Umum Muhammadiyah terpilih nantinya agar tidak terlibat dalam politik praktis.
Sebab, Muhammadiyah sebagai ormas sosial keagamaan hanya berpolitik dalam kontek kenegaraan dengan memberikan pertimbangan kepada pemerintah dalam me-ngambil kebijakan. Senada disampaikan pengurus pusat Muhammadiyah terpilih lainnya,Abdul Mu’ti.Menurut dia, pemilihan ketua umum dengan cara voting sama sekali tidak memiliki organisasi.Sebab,proses pemilihan di Muhammadiyah selama ini dilakukan dengan musyawarah mufa-kat.“Peraih suara terbanyak adalah representasi dari apresiasi muk-tamirin,”katanya. Sedangkan pengurus pusat Muhammadiyah terpilih Goodwill Zubir mengatakan,posisi ketua umum akan dimusyawarahkan secara terbuka oleh 13 orang pengurus pusat.
Setiap pengurus pusat, ujarnya, memiliki kans yang sama untuk dipilih menjadi orang nomor satu di Muhammadiyah. Namun, pemilihannya nanti tidak melalui mekanisme voting.“Kenapa harus voting kalauadamusyawarah,”tegasZubir. Pengurus pusat Muhammadiyah terpilih,Haedar Nashir mengatakan, ketua umum ke depan haruslah orang yang memiliki kecerdasan. Sosok ketua umum,ujarnya, harus bisa bekerja dalam sistem bukan berjalan perseorangan. Selain itu, ketua umum juga harus bisa mewujudkan Muhammadiyah sebagai gerakan pencerah, yakni men-jalankan strategi membebaskan, memberdayakan, dan memajukan masyarakat. Sebelumnya,Muktamar ke – 46 Muhammadiyah telah memilih 13 orang menjadi pengurus pusat untuk masa kerja lima tahun mendatang.
Mereka adalah Din Syamsuddin yang memperoleh 1.915 suara, Muhammad Muqoddas 1.650 suara, A Malik Fajar 1562 suara, A Dahlan Rais 1.508 suara, Haedar Nashir 1.482 suara. Disusul Yunahar Ilyas dengan 1.431 suara, Abdul Mu’ti 1.322 suara, Agung Danarta 1.034 suara, Syafiq A Mughni 952 suara,Fa-tah Wibisono 942 suara, M Goodwill Zubir 931 suara,Bambang Sudibyo 887 suara, dan Sukriyanto dengan 797 suara. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Zully Qodir mengatakan, komposisi pengurus pusat Muhammadiyah menyimpan potensi ketegangan.
Terutama terkait orientasi politik dan kebebasan berpikir yang dimiliki masingmasing personel. Namun, ketegangan itu bisa dijembatani dengan ke-ha-diran sosok A Malik Fajar, Syafiq A Mughni,dan Sukriyanto. “Komposisi pimpinan yang ada bisa memicu pragmatisme politik. Bukan dalam politik sebenarnya, tapi dukung-mendukung calon (yang akan memimpin Indonesia) bisa menguat,”katanya.
Waspadai Birokratisasi
Muhammadiyah diminta mewaspadai adanya gejala biro-kratisasi yang tengah melanda di internal organisasi. Salah satunya dibuktikan dengan melemahnya gerakan pengentasan kemiskinan yang dilakukan ormas sosial keagamaan ini. Profesor dari Universitas Chiba Jepang yang juga peneliti Muhammadiyah Mitsuo Nakamura mengatakan, pascaperistiwa G-30 S/PKI pada 1965,Muhammadiyah mengalami perkembangan yang luar biasa,dari sisi keanggotan dan amal usaha yang dimiliki.
Namun,seiring berjalannya waktu, ormas bentukan KH Ahmad Dahlan ini tidak lagi membela kepentingan masyarakat golongan bawah, terutama dalam bidang ekonomi. Keberpihakan terhadap masyarakat golongan bawah dilakukan dalam bentuk usaha-usaha yang sifatnya kultural dan tercerai berai. Seperti infak, pembagian sembako, pengobatan gratis inisdental. “Tapi apakah mampu mengatasi kemiskinan.Tidak ada usaha sungguh-sungguh dilakukan untuk mengatasi kemiskinan,” kata Mitsuo Nakamura saat meninjau pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-46 di kompleks UMY, kemarin.
Kritikan juga dilontarkan oleh Antropolog Kangwon National University Korea Selatan Kim Hyung-Jun Kim. Menurutnya, Muhammadiyah tidak lagi memiliki pemimpin yang kharismatik setelah KH Ahmad Dahlan. Padahal, sebagai organisasi yang besar dengan banyaknya amal usaha dan anggota yang dimiliki, Muhammadiyah memiliki pe-ngaruh yang luar biasa baik di tingkat nasional maupun internasional. Kemarin, Muktamar Muhammadiyah masuk dalam tahap sidang komisi. Anggota muktamar dibagi dalam lima komisi,A,B,C,D, E. Masing-masing membahas laporan dan organisasi, program, revitalisasi gerakan, pernyataan pikiran,dan rekomendasi.
Sementara pemilihan pengurus Pimpinan Pusat (PP) Aisyiah yang berlangsung kemarin menggunakan sistem formatir. Dalam sistem ini menurut Tomo bahwa setiap pemilih berhak memilih lima nama dari 39 nama yang telah ditetapkan yang nantinya akan menjadi formatur. Kelima nama tersebut rencananya akan diumum-kan hari ini. Dan berikut dukungan Sitemap untuk blog teman saya:
Type Approval Indonesia
Nggo Kontes
Berita Kita
Dunia Berita
Hari™
Berita Terkini
Leak
Type Approval Partnership
Brita Utama
Reuni17
Xipoq
Indonesia Type Approval
Rabu, 07 Juli 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar