Jumlah pesantren di Sumsel jumlahnya mencapai 300-an lebih.Namun hanya beberapa saja yang mengkhususkan diri sebagai pusat penghafalan dan pengkajian Alquran,salah satunya Pesantren Aulia Cendekia. Bagaimana perkembangan pesantren jenis ini?
PIMPINAN Pondok Pesantren Aulia Cendekia H Hendra Zainuddin MPdI mengungkapkan, pondok pesantren ini memang dibangun atas dasar keinginannya yang kuat untuk melahirkan hafiz-hafizah baru yang unggul. Karenanya sejak awal berdiri tahun 2007, Aulia Cendekia mengkhususkan diri sebagai pusat penghafalan dan pengkajian Alquran.
“Istilahnya ‘dendam’ kalo saya bilang. Sebab ketika menempuh pendidikan di pondok pesantren modern, kami hanya fokus belajar Bahasa Arab dan Inggris saja. Akibatnya saya lemah dalam urusan hafalan Alquran dan kajian,” papar ayah dua anak itu singkat. Berangkat dari pengalaman itulah, Hendra lantas berkomitmen menjadikan pesantrennya yang kedua ini khusus menjadi pusat kegiatan penghafalan dan pengkajian Alquran.
Tujuannya jelas,secara pribadi dia ingin terus dapat melahirkan hafiz-hafiza yang senantiasa menjaga kemurnian Alquran sampai akhir masa. Selain mengkhususkan diri sebagai pusat penghafalan dan pengkajian Alquran, pesantren terbagi menjadi beberapa jenis lagi. Yakni ada pesantren yang mengkhususkan diri sebagai pusat pembelajaran kitab kuning dan bahasa. Namun seiring perkembangannya, kini banyak pesantren yang justru memasukkan program penghafalan Alquran dalam kegiatan belajar mengajarnya.
Meski tidak begitu mencolok, santri yang memiliki kemauan keras menjadi hafiz di pesantrennya cukup menggembirakan.Dari 200 yang terdaftar mulai tingkatan Madrasah Ibtidiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA),ada 7 orang yang benar-benar konsen. Dia optimis ratusan santri lain segera mengikuti jejak 7 rekannya ini. Karena Allah SWT telah menjanjikan berbagai keutamaan bagi mereka yang memutuskan diri menjadi hafidz dan hafidza.
Di antara kelebihan yang dijanjikan Allah itu, kata Hendra, adalah mereka dijadikan keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah. Selain itu,Allah juga menjanjikan bahwa hafiz dan hafiza akan menjadi orang yang paling arif di surga dan terhindar dari siksa api neraka. “Sekarang ini walau tidak mengkhususkan diri banyak pesantren yang memasukkan ha-falan Alquran dalam program belajar.
Ini artinya ada semangat kaum muslimin di Sumsel untuk menjaga nilai-nilai keislaman pada generasi muda. Makanya kedepan banyak hafiz dan hafizah yang akan dilahirkan,” ujar pria kelahiran Palembang, 4 Desember 1973 itu meyakinkan. Tidak cukup sampai disitu, kehadiran pesantren ini, kata Hendra, juga punya visi bagi kota berkembang seperti Palembang. Apalagi kalau bukan untuk mewujudkan Palembang sebagai kota internasional yang religius.
Di pesantren yang dikelolaannya, calon hafiz dan hafiza harus menjalani metode belajar khusus. Langkah pertama yang biasa dilakukan Asisten Direktur Bidang Pengkajian untuk membentuk seorang santri menjadi hafiz adalah memperbaiki cara baca Alquran secara mendetail.Bukan hanya makhrajal huruf tapi juga tajwid. Setelah proses ini mulus, barulah santri diajarkan menghafal Alquran dengan melihat.
Setelah itu baru dilanjutkan dengan teknik menghafal tanpa melihat atau Bilghaib. “Dari 7 santri yang sungguhsungguh itu, sekarang rata-rata sudah hapal 2 jus.Kunci menjadi hafiz itu kemauan, ada yang bisa hafal dalam waktu 3-4 tahun. tapi ada juga yang sudah 4 tahun baru hafal 5 jus. Karena itu yang penting adalah kedisiplinan,” katanya.
Hendra menambahkan,untuk bisa menjadi hafiz dan hafiza, santri harus digembleng khusus di luar jam pelajaran umum.Yakni antara pukul 07.30-13.00 WIB oleh para hafiz yang sudah lebih dulu menekuni penghafalan dan pengkajian Alquran.Melalui cara ini dia berharap visi menciptakan hafiz yang cerdas dan iklas bisa segera terwujud di Palembang.
Minggu, 15 Agustus 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar