Warga Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya Makassar dan sebagian besar wilayah Utara masih harus berwaspada. Diperkirakan,cuaca ekstrem akan berlangsung hingga pertengahan bulan ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memperkirakan, hujan deras disertai angin kencang dan petir akan melanda sebagian besar wilayah bagian Utara. Kepala Bidang Pelayanan Jasa BMKG Wilayah IV Makassar Sujarwo, yang dihubungi tadi malam, mengatakan, cuaca buruk akan terjadi utamanya pada siang atau sore hari. Disebutkan, meski hanya berlangsung singkat, namun intensitas hujan yang turun sangat deras.
Kondisi tersebut akan terlihat di seluruh wilayah Makassar,Gowa, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang. Hal yang sama juga diperkirakan melanda kawasan Luwu,Palopo,Luwu Timur, dan Luwu Utara. “Di Selat Makassar, ketinggian ombak mencapai maksimal 1,5 meter.Sementara di perairan Selayar dan Teluk Bone mencapai 2 meter. Kondisi tersebut masih aman untuk pelayaran semua jenis kapal. Hanya saja, perkiraan ini bisa saja berubah sewaktu-waktu,” kata Sujarwo. Hujan disertai angin kencang dan petir melanda Makassar sejak September hingga Oktober ini.Awal bulan ini, insiden pohon tumbang yang menimpa satu unit mobil terjadi di Jalan Gunung Merapi Kecamatan Ujung Pandang, Jumat (1/10).
Pohon tumbang yang diakibatkan angin kencang juga terjadi di beberapa wilayah sepanjang Oktober ini. Masih di awal Oktober, tiga kelurahan di Kecamatan Wara Timar, Palopo diterjang angin kencang yang merusak belasan rumah warga. Di beberapa daerah, banjir juga terjadi akibat tingginya curah hujan, seperti Luwu, Pinrang, dan Sinjai.Bahkan,kemarin,banjir masih menggenangi sebagian besar Kecamatan Sinjai Utara. Terpisah, Kepala Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare DaudBataramengatakan, hingga kemarin kondisi cuaca di kawasan Parepare terpantau aman untuk melakukan pelayaran. KM Teratai Prima II dan KM Tanjung Selamat,telah diberangkatkan dari Pelabuhan Cappa Ujung menuju Kalimantan,kemarin.
Hingga tadi malam,Daud mengaku belum menerima informasi prakiraan cuaca hari ini dari BMKG. Disebutkan juga, sebuah kapal milik PT Pelni yaitu KM Bukit Siguntang, akan tiba di Pelabuhan Nusantara dan kembali diberangkatkan menuju ke Tarakan Kalimantan Timur(Kaltim),hariini. “Khusus untuk KM Teratai Prima II, saat ini (pukul 20.00 Wita tadi malam) dipastikan telah berada pada posisi yang aman dan mudahmudahan akan tiba dengan selamat di Samarinda besok pagi (hari ini). Kami terus memantau kondisi cuaca terakhir.
Dan jika ada cuaca buruk, kami akan mengeluarkan peringatan pelayaran,”kata dia. Lebih lanjut Daud menjelaskan, meski terjadi cuaca buruk dengan ketinggian ombak mencapai lima meter, kapal milik PT Pelni dipastikan tetap aman berlayar. Hanya saja, kata Daud, untuk kapal milik swasta yang melayani rute Parepare ke Kaltim, dipastikan tidak akan mampu berlayar dengan kondisi seperti itu karena ukuran kapal yang lebih kecil.
Hujan Lebat, Jakarta Macet
Hujan deras yang mengguyur Jakarta sore kemarin memicu kemacetan luar biasa di hampir semua jalan utama Ibu Kota. Selain karena banyaknya genangan air, kondisi diperparah oleh banyaknya pohon tumbang di sejumlah ruas jalan pada saat jam pulang kantor. Hujan yang tergolong ekstrem juga mengacaukan lalu lintas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno- Hatta.
Berdasarkan laporan yang dihimpun Traffic Management Centre (TMC) Ditlantas Polda Metro Jaya,kemacetan akibat genangan air terjadi di Jalan Gatot Subroto, Jalan Raya Arteri Pondok indah, Jalan Raya Antasari, Jalan WR Supratman, dan sejumlah jalan utama lainnya. Bahkan, hingga tadi malam arus lalu lintas di arteri Gatot Suboto yang menuju arah Grogol masih mengalami kemacetan. Kepadatan dipicu adanya genangan air yang cukup dalam di depan Mall Citraland.
”Kemacetan memang sudah setiap hari terjadi namun kemarin kemacetan terjadi karena di beberapa jalan ada sedikit genangan,” jelas Koordinator TMC Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Indra Jafar. Menurut petugas Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, hujan lebat di sertai angin kencang dan kilat yang terjadi kemarin merata di wilayah Jakarta hingga kawasan Tangerang, Depok bagian utara, dan Bekasi. Hujan yang disertai kilat seiring terbentuknya awan cumulonimbus lazim terjadi selama masa transisi yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober. Sebelumnya Kepala BMKG Sri Woro Budiyanti Harjono mengingatkan ancaman cuaca ekstrem di hampir seluruh wilayah Tanah Air, termasuk Jakarta.
Cuaca ekstrem terjadi karena adanya ekspansi vertikal awan yang mengakibatkan curah hujan meningkat tajam serta peluang angin puting beliung cukup tinggi. Diprediksi, cuaca ekstrem akan berlangsung hingga enam bulan ke depan. Pengamat Tata Ruang Perkotaan dari UI,Teguh Utomo, mengingatkan kondisi ini akan terus terjadi jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak mencari solusi. Menurutnya,munculnya genangan setiap turun hujan akibat kurangnya tempat parkir air atau polder air. Polder air yang terintegarfasi dengan saluran air untuk menampung kapasitas air berlebih akibat air hujan.Saat kondisi kering air tersebut di lepas ke laut melalui saluran air,kali,ataupun kanal.
Dia menyadari, membuat polder baru di Jakarta saat ini tidaklah mudah karena terbatasnya lahan. Namun, Jakarta bisa mencontoh sistem polder di Kuala Lumpur dan Tokyo yang ditempatkan di bawah tanah. “Sistem parkir air yang ideal untuk Kota Jakarta yang terbatas lahan terbukanya adalah sistem di bawah tanah. Saluran tersebut dibuat terintegrasi dengan banjir kanal untuk menampung air sebanyak mungkin,”katanya.
Pesawat Delay
Akibat cuaca buruk yang terjadi di Tangerang,lima pesawat di Bandara Internasional Soekarno- Hatta terpaksa delay. Kepala Bidang Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jaya Tahoma Sirait mengatakan, delay penerbangan dilakukan untuk keberangkatan dan kedatangan. ”Jarak pandang terburuk di Bandara ini jauh dari normal, mencapai 300 meter sehingga pilot tak memungkinkan untuk melihat landasan,”katanya. Kondisi ini terjadi sekitar sejak pukul 15.30–16.20 WIB.
Jarak pandang ideal untuk mendarat (landing) dan terbang (take off) seharusnya 2 kilometer (km).Jika ternyata jarak pandang di bawah 2 km,pesawat tidak direkomendasikan untuk take off atau landing demi keselamatan penerbangan. “Kami terpaksa menahan (holding) tiga pesawat yang akan mendarat. Sedangkan yang akan take offdua pesawat.Tiga pesawat yang mendarat saya lupa dari mana, sedangkan yang akan terbang rutenya Jakarta–Singapura dan Jakarta–Surabaya,”jelasnya.
Kamis, 07 Oktober 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar