Sabtu, 12 Februari 2011

Sebanyak 15.614 warga di Sumatera Utara

IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia ~> Sebanyak 15.614 warga di Sumatera Utara (Sumut) menderita Tuberculosis (TB) paru BTA (+) selama 2010.Berdasarkan survei,Kota Medan merupakan daerah dengan penderita terbanyak dibandingkan daerah lain.


“Target nasional sebesar 70%.Tahun 2011 pencapaiannya diupayakan di atas tahun 2010,” kata Sukarni, Kasi Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumut kemarin. Sukarni menjelaskan,lima kabupaten kota dengan penderita terbanyak dari triwulan I hingga III yaitu,Kota Medan (2.152 penderita); Pemantangsiantar (288); Binjai (260); Tanjung Balai (150); dan Tebing Tinggi (145). Secara epidemiologi, dari 70% tersebut, penderita TB Paru yang sembuh 85% dengan waktu 5 tahun. Diharapkan, insiden rate turun setengah, kalau sekarang dengan 160/100.000 penduduk maja berkurang menjadi 80/100.000 penduduk.“Sebenarnya sudah ditemukan kasus TB tapi tidak dengan strategi DOTS.

Jadi kita takut hal itu akan menjadi Multi Drag Resisten (MDR) atau kuman TB akan resisten dan tidak bisa dengan obat lini pertama. Jadi pengobatannya semakin lama yaitu 18 bulan dan obatnya mahal,” kata Sukarni. Kemungkinan, kata dia, kasus MDR ini sudah ada dan banyak di kota yang didapat dari klinik dan praktek dokter. Untuk menanggulangi kasus MDR ini RS Adam Malik dijadikan sebagai rumah sakit rujukan.Ke depannya, diharapkan semua kabupaten/kota di Sumut mempunyai rumah sakit untuk program MDR.

Dalam penanggulangan permasalahan kasus TB ini, Dinkes Sumut berharap semua pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, balai pengobatan dan praktek dokter swasta ikut menurunkan penderita TB dengan strategi DOTS. Saat ini,yang baru berjalan hanya seluruh puskesmas, sedangkan rumah sakit baru 35%, balai pengobatan di bawah 10%,dan 30% lapas rutan yang baru menjalankan program tersebut. Upaya lain yang dilakukan yaitu dengan mendatangi sekolah yang bersifat asrama seperti pesantren. Bila ditemukan kasus dengan gejala TB diharapkan untuk dibawa ke puskesmas supaya mengikuti program DOTS. Memonitoring semua desa oleh surveilans dimulai dari tingkat kabupaten ke desa dan puskesmas.

“Bagi desa yang daerahnya sulit dijangkau dilaksanakan workshop dan selanjutnya petugas puskesmas datang satu kali sebulan untuk mengambil datanya baru bidan desa yang akan memberikan obatnya,”ujar Sukarni. Begitupun, masih ada ditemukan kendala baik dari petugas pelayanan kesehatan dan petugas yang telah mengikuti program strategi DOTS secara bertahap akan diintervensi serta memerlukan komitmen.“Tahun 2011 kami sudah melatih dokter swasta seperti melalui dokter keluarga untuk program DOTS. Sementara kendala dari masyarakat, belum menyadari untuk berobat TB secara teratur selama 6 bulan.

“Ada alasan pasien tidak lagi berobat secara teratur karena merasa sudah sembuh dengan tidak ada lagi batuk yang dialami,”ucap Sukarni. Sementara Ketua Perhimpunan Pasien dan Masyarakat Peduli TB (Tuberculosis) Dr Delyuzar SpPA sebelumnya menyebutkan, sepanjang 2010 ada sekitar 69 penderita TB positif yang ditangani pihaknya. Dari jumlah tersebut, belum ada kasus yang meninggal, hanya ada yang diperiksa ulang, ada yang sedang dalam pengobatan, ada yang sudah sembuh da belum ada kasus meninggal. “TB ini penyakit yang berbahaya.

Kalau terlambat ditangani, maka tidak bisa diganti parunya, bahkan bisa cacat pada parunya. Penderita TB itu butuh proses penyembuhan minimal enam bulan dengan terus-terusan meminum obat yang kita beri,”jelasnya.

0 komentar:

Copyright © 2011 Tomo All Rights Reserved